Mengapa Anda Jangan Menggunakan Custom Program?

Kadang sulit dimengerti oleh perusahaan, bahwa menemukan solusi teknologi di dalam bisnis itu sebenarnya gampang. Syaratnya ya harus mau dibuat gampang.
Di semua tempat saya bekerja, perusahaan lebih menyukai custom program daripada software yang sudah ada apalagi menggunakan software Open Source. Kesannya menggunakan custom program lebih keren. Mungkin memang lebih keren, tapi ujungnya pasti jadi nambah kerjaan, buang biaya dan waktu.
Di salah satu perusahaan lama tempat saya bekerja, ujungnya kami ‘dikerjain’ oleh team IT yang ramai-ramai resign. Program yang mereka buat untuk perusahaan di kunci, sehingga perusahaan harus membayar uang tertentu agar program tersebut berjalan. Malangnya, perusahaan tersebut adalah perusahaan retail chain, yang memiliki cabang 14 di Indonesia, walhasil setiap tanggal tertentu, yang sudah di program oleh team IT lama, program kami acak-acakan.
Tentunya itu adalah contoh terburuk, tapi coba lihat skenario lain yang lebih sederhana, dengan menggunakan logika operasional. Custom program itu dibuat khusus untuk keperluan dan solusi tertentu oleh pembuatnya. Artinya:
- Jika masalah perusahaan berkembang, maka solusi default sudah tidak relevan lagi untuk memecahkan masalah.
- Jika sudah tidak relevan biasanya perusahaan harus membayar jumlah tertentu untuk menambah fitur program.
- Karena dibuat khusus oleh pembuatnya, maka hanya pembuatnya saja yang tahu pemecahan jika program bermasalah.
Belajar dari pengalaman tersebut saya kapok menggunakan custom program, bahkan meski programmer nya teman dan atau kenalan sendiri. Saya lebih percaya sama software open source atau software yang sudah mapan untuk digunakan sebagai solusi bagi perusahaan:
- Open Source software memiliki support forum dan certified consultant, sementara itu corporate software memiliki customer support dan term of service nya jelas.
- Sejauh saya menggunakan solusi selain custom program, saya tidak menemukan ‘hidden charge’, yang lumrah ditemukan di bisnis teknologi.
- Jika ‘programmer’ internal ada apa-apa, misalnya resign, sangat mudah menemukan penggantinya. Karena solusi permasalahan bukan hanya dia yang mengerti.
Gampang kan? Kenapa musti dibuat susah?
Catatan:
- Perusahaan-perusahaan tempat saya bekerja memang tidak memiliki teknologi sebagai core operation.
- Perusahaan-perusahaan tersebut masuk kategori perusahaan menengah, yang tidak memiliki cukup dana untuk membeli teknologi tingkat tinggi.
« Cara Berlangganan Feed Friendfeed | Halaman Depan | Lowongan Kerja Flash Developer di Bali »















Komentar Pembaca
Setuju sekali mas menurut saya Open Source sangat cocok bagi perusahaan menengah kebawah sedangkan yang punya budget besar bagusan Custom Program
Halo Yustian, iya. Tapi kadang suka sulit menjelaskannya. Ya gitu deh.
Tinggalkan komentar...