55% Perusahaan Tidak Siap untuk Krisis Reputasi Online
Study yang dilakukan Paul Dunay dengan topik Reputation Management for New Media Survey menyatakan bahwa:
- 53% dari perusahaan memonitor reputasi sebagai prioritas strategis di tahun 2008.
- 42% memiliki rencana menjaga reputasi online.
- 55% menyatakan tidak siap untuk mengatasi krisis reputasi online.
- 63% perusahaan tidak memiliki kebijakan formal mengenai blog yang dipublish karyawan secara pribadi.
Perjalanan dan peluang bagi para pelaku bisnis dan pemasar online masih panjang. Perusahaan-perusahaan yang di survey beroperasi di Amerika. Bayangkan yang diluar Amerika seperti Indonesia. Setelah kecurian dan kehilangan reputasi 1 biasanya baru repot. Hasilnya? Seperti biasa biaya tinggi.
Hasil study selengkapnya ada pada dokumen di bawah ini:
- Yang bisa dihindari dengan melakukan Manajemen Reputasi ↩
« Format PDF menjadi Standar ISO | Halaman Depan | 600 Juta Pengguna Internet dalam Bahaya Karena Menggunakan Browser Versi Lama »















Komentar Pembaca
Salam kenal yah!
Menarik kalau kita bisa melakukan riset seperti ini di Indonesia. Walaupun sepertinya hasilnya sudah bisa ditebak. 60% tidak tahu bahwa ada krisis reputasi online/online dapat menyebabkan krisis reputasi.
Mungkin bisa menjadi acuan sejauh mana pemahaman perusahaan akan online/digital media. Saat ini mungkin saja karyawan mereka aktif blogging, apakah mereka punya guideline terhadap blogging baik korporate maupun pribadi.
Hai Nivell, DigitalPR blog yang bagus, salam kenal juga dan terimakasih sudah mampir.
Ya, hasilnya bisa ditebak. Sebelum saya full time wirausaha, saya karyawan yang aktif blogging. Sedikit pengakuan, tiap saya ada keluhan saya curahkan di blog. It’s awful tapi terjadi dimana-mana.
Bayangkan, ngga usah jauh-jauh, hanya dengan men-setting Google Alerts saja sudah lumayan bisa memantau brand perusahaan di world wide web. Contohnya di postingan ini, karyawan Mozilla langsung datang dan membalas komentar. Begitu pula dengan postingan ini, langsung di balas oleh karyawannya.
Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan Indonesia yang dibahas dan dikeluhkan disini. Hehe. Diam dan lebih parah, mungkin mereka ngga tau, dan bisa menjadi bom waktu.
Saya rasa, meski sudah ada penelitian sejenis pun perusahaan2 itu ngga bakal aware. Yang bisa membantu kesadaran mungkin dengan menunjukkan langsung model website seperti Get Satisfaction dan tool reputasi Trackur. Mungkin lebih mudah untuk di benchmark.
Tinggalkan komentar...